Oleh: sumadiklaten | 30 September 2008

Pojok Tiga Negara

Paket acara saya untuk ahad, 14 September adalah pengenalan tempat2 bersejarah di negera bagian Saarland. Jam 09.00 mas berangkat dari wohnung (tempat tinnggal) mas dengan bis menuju Kota Trier, kota tua yang merupakan pusat kebudayaan Romawi.  Dalam perjalanan kami mampir di dua tempat, yaitu pusat pembangkit listrik tenaga angin dan point of view untuk aliran sungai Mosel.  Di tempat istirahat yang pertama, saya melihat bahwa orang jerman sangat konsen untuk melakukan diservikasi energi, bahkan sumber energi ini konon sudah bisa memenuhi sekitar 5% kebutuhan listrik jerman dan katanya akan terus dikembangkan sampai 15% pada tahun 2012.  Di tempat yang kedua saya melihat pemandangan yang indah, sungai yang bersih, berkelok-kelok, dan ada kapal-kapal kecil yang berlayar diatasnya.  Disamping kiri kanan sungai terdapat perkampungan yang tertata rapi dan kebun anggur yang hijau membentang hingga dilembah dan bukit diseberangnya. Ditempat itu terdapat pula toilet yang disediakan gratis untuk para kafilah yang lewat/singgah dan terdapat pula satu billboard berukuran 1×2 m2, bergambar sepasang lelaki dan wanita dan diwahnya terdapat gambar salib besar dan bertuliskan kalimat berbahasa jerman, yang artinya, “mereka menyetir dengan kecapatan tinggi”.  Ketika saya tanya apa itu? Her Dr. Linsen, pramuwisata kami, menjelaskan bahwa itu adalah suatu peringatan agar para pengemudi tidak mengendarai kendaraan terlalu kencang, karena daerah tersebut rawan kecelakaan (sebelah kanan jalan terdapat jurang yang curam dan dalam). Dalam perjalan selanjunya saya melihat ada “kebun energi” di sebelah kiri jalan. Dejelaskan oleh Herr Linsen bahawa tempat itu adalah pusat pembangkit listrik tenaga surya.  Saat ini baru tahun ke dua pengembangan dan katanya akan terus dikembangkan, karena teknologi ini murah dan sangat ramah lingkungan.  Dia juga bila “Indonesia seharusnya bisa lebih hebat dengan hal itu”, tambahnya “karena di sana matahari bersinar sepanjang tahun dan angin berhembus sepanjang hari sepanjang tahun, terutama di daerah pantai”.  MasyaAllah, kenapa pemerintah kita tidak mencobanya? sedangkan jerman yaang musim panasnya lebih pendek daro kita, itu pun tidak setiap hari ada sun shine, mereka bikin itu! Saya sampai di Kota Trier sekitar jam 11an, seperti kebanyakan turis Asia, rombongan saya juga sibuk foto sana foto sini, bahkan salah seorang teman bisa dapat 150 gambar! Kota itu memang menakjubkan, bayangkan bangunan bekas kerajaan romawi yang dibangun sebelum masehi masih berdiri kokoh! Adapula katedral yang sudah ada sebelum th 250.  Tempat yang paling disukai oleh para peserta dari China adalah museum Karl Max, bapak komunisme internasional.  Ternyata dia lahir dikota ini pada tahun 1818 dan sekarang rumahnya dijakikan museum, hasil kerjasama pemerintah dengan pemerintah China. Sampe jam 2 saya dan rombongan diajak jalan kaki muter2 keliling kota, setelah itu acara bebas hingga jam 4 sore. Dari Trier perjalanan dilanjutkan ke negara tetangga terdekat Jerman yang berbatasan dengan Negara Bagian Sarrland, yaitu Luxemburg.  Negara ini unik, karena hanya terdiri satu kota dengan penduduk tidak lebih dari 500.000 jiwa. Luas wilayahnya mungkin sama dengan wilayah Kabupaten Gunungkidul,  tetapi penghasilan perkapitanya teringgi di Eropa!  Luxembur hanya memiliki tidak lebih dari 800 polisi dan 23 tentara (semacam PASPAMPRES) saja.  Harga BBM di sini rata-rata 50 sent lebih murah daripada di Jerman, tetapi kalo kita bandingkan dengan di Indonesia, tentu saja sangat mahal. Bayangkan solar disini dijual 1,4 Euro, bensin 1,5 Euro (kalikan Rp 13500/euro).Tempat pertama yang saya kunjungi di Luxembur adalah sebuah kota di tepi sungai Mosel.  Di sini terdapat sebuah pusat keramaian dipinggir sungai, ada pasar, ada taman bermain, dan ada pelabuhan sungai dengan kapal seukuran fery yang melayani penyebarangan dari pulau Lombok ke Sumbawa di NTB. Semboyan teman2, disetiap bagian eropa yang kita singgahi harus kita taklukkan! He he … maksudnya minimal dengan dipipisi, gitu loh… Desa berikutnya yang saya kunjungi adalah Schengen.  Uniknya desa ini adalah terdapatnya salah satu sudut desa yang menjadi batas wilayah 3 negera: Jerman, Luxemburg dan Perancis.  Karena itulah maka pada tahun 1996 dipilih oleh para pemimpin 3 negara tersebut sebagai tempat ditandatanganinya kesepakatan “Penyatuan Eropa Secara Damai”. Penandatangan dilakukan di atas kapal yang ditambatkan pada dermaga pelabuhan sungai Mosel.  Enak juga ngirit…. saya sudah menginjakkan kaki di tiga negara eropa, dan bisa keluar masuk ketiga negara tersebut dalam hitungan detik. Satu kaki di jerman dan satu kaki di perancis, atau satu kaki di jerman dan satu kaki di luxembur, satu kaki di perancis dan satu kaki diluxembur, atau sebaliknya….Dari tempat inilah diawali perjalan penyatuan Eropa yang kemudian terbentuk apa yang disebut UNI EROPA (UE). Anggota UE berkembang pesat mulai dari 9 negara, 16 negara dan sekarang sudah mencapai 25 negera, baik dari bekas negara2 Eropa Timur maupun Barat. Satu hal yang salalu bikin saya bingung dalam perjalanan di sini: TIDAK PERNAH KETEMU MASJID ATAU MUSHOLLA.  Yach… akhirnya saya shalat dhuhur dan ashar di jamak di dalam bis pada perjalan pulang. Kami meninggalkan schengen jam 18.00. Orang jerman senenganne on time, itu satu hal yang positif dari mereka.  Dalam perjalan pulang saya masih sempat ngelihat kiri kanan jalan tol yang mengubungkan kota Schengen, Trier dan Saarbrücken. Saya lihat lahan pertanian yang terhampar sangat luas dan hijau, saya bayangkan kalo dicangkulin secara manual, berapa tahun selesainya? Tapi petani disini sangat modern. Mereka punya peralatan mekanisasi yang canggih, bahkan punya mobil yang mewah (Mercy, BMW, VW, Peugeot dll).  Seperti tadi bis rombongan saya sempat berhenti untuk membeli apel dari petani langsung yang dijajakan dengan sedan Peugeot, sebuah traktor dilengkapi dengan trailernya. Makanya,  seorang petani disini mampu mengerjakan lahan yang sangat luas sendirian.  Saya lihat juga ada peternakan kuda, peternakan sapi, kebun anggur, dan entah tanaman apalagi. Anggur disini ternyata tidak dibiarkan merambat seperti di Indonesia. Anggur ditanam dengan jarak tanam 0,5 x 1,0 meter dan tinggi tanaman anggur hanya dipertahankan sekitar 2meter saja. Setelah itu saya terlelap, bangun2 udah di Saarbrucken… Ternyata perhitungan Her Linsen tepat, mas bisa sampai kembali di wohnung  jam 19.45, sehingga masih sempat nyiapin menu berbuka puasa….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: