Oleh: sumadiklaten | 10 Oktober 2008

Mobil dengan Kaligrafi “Basmallah”

Kamis, 2 Oktober 2008 kursus bahasa langsung dimulai.  Selama di Mannhein ini peserta akan mendapatkan tiga paket kursus Bahasa Jerman, yaitu Level A2, B1 dan B2.  Masing-masing level akan diselesaikan selama sebulan dari Oktober sampe Desembar 2008.  Buku paketnya ada 6 jilid dan tebal2 (sekitar 200 halaman), jadi paraktis setiap dua pekan harus menyelesaikan 1 buku. Alamak….susahnya jadi anak sekolah lagi!

Selain kursus di kelas, pada setiap pertengahan bulan ada semacam workshop pada hari sabtu dan minggu dari jam 09.00 – 16.00, yaitu kegiatan praktik mengerjakan aktivitas dengan bahasa Jerman, misalnya menelpon, menerima telpon, menulis surat, mengirim email, memesan makanan, mebuat janji dengan dokter, dll.

Kantor Inwent yang menjadi tempat tinggal kami dari Indonesia serta Timur Tengah terletak tidak jauh dari pusat kota.  Di depannya ada alun-alun, yang saat ini sedang diapakai untuk kegiatan Volkfest (pesta rakyat), semacam pasar malem di Indonesia.  Walaupun namanya hanya pasar malem yang insidental, tapi permainannya sekelas wahana permainan Dufan di Ancol.  Ada permainan Jupiter sebesar bianglala, kora-kora yang muternya 360 derajat, bombom car, niagara-gara, komedi putar, ombak samudra, halilintar, mangkok putar, dll.  Pokoknya rame banget dech, apalagi ada juga pedagang kaki lima yang jualan makanan, baju-baju, mainan anak, cindera mata, mainan ketangkasan lempar bola, lempar gelang, menembak botol, dll. Jumat, 3 Oktober merupakan hari libur nasional di Jerman, untuk memperingati hari Reunifikasi Jerman Barat dan Jerman Timur yang terjadi pada tahun 1990an. Jum’at malam di kolam renang digelar kembang api yang sangat meriah. Kebetulan saya sempat melihat dari dekat bareng Pak Bambang, walaupun malam itu hujan membasahi kota dan suhu udara mencapai 3 derajat C!

Dalam perjalanan saya sempat melihat ada mobil yang pada kaca belakangnya ada kaligrafi “Basmallah”. Saya pikir ini pemandangan yang sangat langka di Jerman.  Mannheim merupakan salah satu kota di mana komunitas muslimnya banyak.  Bahkan di sekitar tempat tinggal saya ada dua masjid, satu milik warga keturunan Turki dan satu lagi milik warga keturunan Arab.  Tidak ketinggalan, ternyata di kota ada juga toko khusus busana Muslim/Muslimah, semacam Al-Fath di Yogyakarta. Jum’at kemarin saya shalat di masjid Turki. 

Sabtu, 4 Oktober Jam 10an saya keluar bertiga, bersama Pak Bambang dan Pak Syahrir jalan kaki keliling kota Mannheim.  Kebetulan hari ini cuacanya bagus, matahari bersinar sangat cerah dan angin bertiup sepoi-sepoi.  Walaupun begitu suhu udaranya hanya mencapai belasan derajat.  Saya keluar pakai celana dobel dengan training dan jaket tebal yang  saya beli di Saarbrücken plus kaos tangan. Hiiii….. dingin banget. Sepanjang perjalanan, semua toko tutup, kecuali restoran.  Tapi di tengah kota tetap kelihatan rame karena ada semacam pasar kaki lima di taman kota (di depan gereja tua) yang dibuka sebulan sekali, setiap hari sabtu dan minggu. Sabtu kemarin, katanya khusus buah-buahan dan sayur, hari ini khusus tekstil, baju-baju, mesin jahit, bordir, dan tetek mbengek seputar pakaian. Di taman berikutnya sekitar 200 meter dari situ ada pertunjukan sirkus terbuka. Ada orang berjalan di kawat, pada ketinggian 10 meteran, ada wanita menari bergelantungan diatas menara yang terbuat dari pipa dengan ketinggian 50an meter. Dan yang paling menegangangkan adalah pertunjukan sepeda motor melaju diatas sutas tali yang dibentangkan dari menara ke sebuah gedung di seberang taman.  Jaraknya mungkin 50 meter menanjak dari ketinggian 10 meter hingga lantai 5 gedung tersebut!

Dari situ saya kemudian jalan lagi sampe Universität Mannheim. Saya masuk sebentar, keliling-keliling.  Kampusnya besar banget, tapi suasananya sepi banget, karena hari minggu. Terus jalan lagi sampai Wasserturn (menera air) yang menjadi maskot kota Mannheim yang dibangun pada 1887. Kebetulan di situ juga lagi ada acara keluarga.  Thema caranya adalah permainan anak Jerman.  Ada macam-macam dolanan tradisional anak Jerman yang diperagakan.  Ada main lempar kayu, semacam dolanan benthik yang saya mainkan bersama teman-teman di kampung pada masa kecil dulu. Ada mainan semacam sepatu roda tradisonal. Permainan ini terdiri dua lembar papan yang ditautkan dan masing-masing dilengkapi dengan dua pasang roda.  Bila papan kanan begerak keatas mengikuti putaran roda, maka yang kiri kebawah. Dengan menaik turunkan kaki yang menginjaknya, maka alat tersebut kemudian meluncur, seperti sepatu roda.


Responses

  1. ya

  2. blog ayah baguzzz
    moga tambah baguz ya yah

    besok2 punyaku tak biki kaya punya ayah deh

  3. Blognya super menarik. Tulisannya mungkin bisa dikirim ke majalah sebagai kisah perjalanan yang menakjubkan. sukses deh

  4. Wah tambah hebat lagi neh….

    Blog yang sangat menarik….
    Keep blogging

    Saya sangat tertarik dengan program e-learning, sharing informasinya yah….

    Tipsnya biar bisa ikut program ke Jerman juga dong taun depan….

  5. Liebe Frau Margit,

    vielen dank für ihr kommentar. Ich finde, dass der sprachkurs interessant ist. Ich muss mehr Deutsch lernen, weil ich in die Internationale-Mitarbeiterführung-Ausbildung in Deutschland teilnehmen möchte. Bitte suchen Sie mir die Berufschule für praktikum.
    Viele Grüße

  6. Kepada Sumadi yg baik,

    saya senang website dari Bp Sumadi! Das haben Sie gut gemacht! Bagaimana pelajaran Bhs Jerman? Saya menanti sumbangan cerita dalam Bhs Jerman!

    Salam dari Bremen
    Ibu Margit


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: