Oleh: sumadiklaten | 10 November 2008

Hans im Glücklich

Rabu 22.10, kelas saya udah nyelesain buku A2/1 dan mulai masuk ke buku A2/2.  Lehrerin kami emang ngebut terus, maklum kerja borongan.  Satu bulan harus nyelesaiin satu paket! Paket normal di Goethe Jakarta satu paket per semester, paket super intensif A1 kemaren aja 6 minggu udah terbilang ngebut, eh disini lebih ngebut lagi!  Lehrerin di kelas sebelah bilang, “Ich bin kaputt….” sambil megang jidatnya. Arti sebenarnya, “saya rusak“, tapi maksudnya pusing…dech. Katanya dia ngajar di Universitas Mannheim untuk calon mahasiswa S2 dan S3 dari Korea, targetnya 2 bulan per paket! Kata saya ikuti aja lah …… lha wong udah kadung di sini?! Mo gimana lagi.

 

Pada buku A2/2 kita mulai belajar memngenal idiom2, dan peribahasa Jerman. Puyeng dikit, soalnya seringkali kata2nya nggak ada di kamus. kalo nanya ama gurunya, “was bedoite ist …….(kata yang pengin kita ketahui artinya)”, dia bilang lagi dalam bahasa jerman, bukan inggris, bukan arab apalagi indonesia.

 

Ada yang menarik dari buku A2/2, diawal halaman disajikan dongeng/cerita rakyat Jerman.  Judulnya “Hans ims Glaucklich”, secara harfiah artinya “Hans dalam kebahagiaan”, kayaknya kurang pas dengan struktur bahasa kita, mendingan kita terjemahin sebagai “Hans yang gembira” aja.  Ceritanya hampir mirip ama cerita kabayan dan seekor kerbau. Begini ceritanya…..

 

Pada suatu hari Sabtu Hans merasa suntuk seharian, padahal menurut kebiasaan orang Jerman, sabtu adalah hari anak2.  Pergilan hans ke suatu tempat, di sana dia berdoa kepada Tuhan, minta agar hari sabtu ini dijadikan hari yang bahagia (Schönentag).  Permintaan Hans dikabulkan.  Diberikan kepadanya sebongkah emas yang sangat besar dan tentu sangat mahal harganya.  Tapi apa kata Hans? “Gembira apaan begini? Rasanya justru tambah susah, kesan-kemari bawa benda sberat ini”. 

 

Di tengah perjalanan di bertemu dengan seorang pemilik kuda.  „Hans, bagaimana kalo aku tukar batumu itu dengan kudaku ini. Kelak kalo dia sudah besar bisa kamu tunggangi”.  Hans pikir bener juga tuh bapak. Maka ditukarlah emas Hans dengan kuda.

 

Ternyata nuntun kuda juga bukan hal yang menggembirakan hati Hans. Hans kemudian berjalan lagi.  Di perjalanan berikutnya Hans bertemu dengan seorang peternak sapi perah.  “Sapiku ini bisa mengasilkan susu, kalo kau mau,  kita bisa tukeran. Enak, ntar kamu bisa minum susu saben hari”.  Daripada nunggu kuda bisa ditunggangi, kan mendingan dapet susu yang dapet diminum…. pikir Hans. Maka untuk kedua kalinya, Hans menukar milikinya dengan sesuatu yang (menurut kita) lebih rendah nilainya.

 

Dalam perjalanan berikutnya Hans bertemu dengan peternak babi. „Sapi hanya mengeluarkan susu setiap pagi dan sore, Hans“, katanya.  „Mendingan ditukar babi aja, kapan aja kamu mau motong dia, kamu bisa makan dagingnya“. Bener juga, pikir Hans.  Ini adalah kali ketiga Hans menukarkan barang miliknya. 

 

Belum sampe di rumah Hans ketemu dengan peternak bebek.  „Hans, apa nggak berat, kesana-sini nuntun babi? Kayaknya akan lebih enteng kalo ditukar bebek? Lagian meliharanya lebih mudah lho“! Bujuk peternak bebek merayu.  Dasar Hans yang rada o’on, mau juga di tukarkan babinya dengan bebek.

 

Nggak berapa lama lagi, Hans akan tiba di rumah.  Dia melewati rumah seorang tukang bikin batu bata.  Entah gimana cara ngerayunya si tukang bata, bebek Hans pun tertukar pula dengan bata. 

 

Dalam perjalan pulang Hans melintas di atas sebuah sungai yang besar. Dilemparkannya batu bata itu ke dalam sungai, “jebur…..” dalam sekejab batu bata lenyap ditelan air sungai.

Ah…. lega akhirnya aku bisa menemukan hari bahagiaku. Hidup bebas tanpa beban, tanpa harus menuntun kuda, sapi, babi, bebek.  Saya pikir tidak rugilah kalo bata itu saya buang aja……


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: