Oleh: sumadiklaten | 10 November 2008

Pungli vs Punglih

Pungli vs Punglih

 

Dua istilah yang sama-sama sangat populer. Pungli sangat populer di Indonesia, sedangkan Punglih sangat populer di Jerman.

 

Pungli

Pungli atau pungutan liar adalah hal yang sangat lumrah di Indonesia.  Dari berita-berita di koran, radio maupun televisi kita kerap kali mendengar adanya praktik pungli di mana-mana.  Pungli pun dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat (oknum), mulai dari tukang parkir, kodektur, polisi, DLLAJ, guru/kepala sekolah, Perangkat Desa/Kelurahan, Imigrasi, Bea Cukai, Pegawai Pemda dan Dinas-dinas/Pemerintah yang lain. Modus operandinya pun macam-macam, misalnya dengan mengutip biaya melebihi aturan yang ditetapkan atau terang-terangan meminta biaya ekstra yang tidak ada dalam  pertaruran.  Prinsipnya jika bisa dipersulit, kanapa harus dipermudah?

 

Hal seperti itu belum pernah saya temui di Jerman.  Hanya ada tiga profesi yang boleh menerima tip (hali ini seperti sudah menjadi kebiasaan umum masyarakat dunia), yaitu sopir taksi, pelayan restoran dan room boy hotel.  Frau Chin, betroier/petugas penghubung dan pemadu kami waktu di Saarbrücken menyatakan bahwa petugas di Jerman akan merasa sangat terhina apabila customer yang menawarkan tip kepadanya.

 

Punglih

Sebenarnya tulisannya begini: Punktlich, dibaca: punglih yang berarti tepat waktu.  Salah satu hal positif dan sangat populer di Jerman adalah budaya tepat waktu dan janji (termin).  Hampir semua pertemuan selalu diawali dengan janji. Tanpa janji, biasanya kita akan ditolak untuk menemui seseorang (secara pribadi maupun kedinasan). Bahkan untuk berobat ke dokter saja harus bikin janji dulu! Bila janji sudah disepakati, maka jarang sekali ditemukan orang datang tidak pada waktu tersebut.  Kalaupun meleset, paling sekitar satu sampai dua menit.  Hal tersebut bukan hanya berlaku pada seorang manusia, tetapi juga pada moda-moda angkutan umum, misalnya Bahn (kerata listrik kota), bus kota, ICE (Inter City Express) dan jasa-jasa layanan masyarakat lainnya. 

 

Ada pengalaman menarik dari para peserta ILT baik yang dari Arab, China, Afrika maupun Indonesia.  Pada waktu akan berangkat bepergian bersama dalam suatu kegiatan City Excursion, selalu ada saja peserta yang tidak jadi mengikuti kegiatan, karena terlambat tiba di tempat berkumpul.  Pada awalnya toleransi diberikan untuk keterlambatan lima menit (karena memakai bus yang disewa khusus), tapi kemudia dijelaskan bahwa kejadian ini adalah yang terakhir, selanjutnya tidak ada lagi toleransi, apalagi jika acaranya dilakukan dengan menggunakan moda angkutan umum. Ternyata ajaib! Efek jeranya sangat manjur.  Dalam perjalanan selanjutnya  tak satu orang pun harus dicari-cari atau dipanggil-panggil pakai halo-halonya informasi, seperti yang sering kita dengar di obyek wisata di Indonesia: “Mohon perhatian…Panggilan kami tujukan kepada Bapak Anu dari Rombongan Wisata ……. harap segera datang ke tempat parkir, karena sudah ditunggu oleh anggota rombongan yang lain…” Rupanya para peserta taku juga kalo ditinggal sendirian di suatu tempat yang belum dikenalnya, di negeri orang pula!

 

Terus terang saya katakan, bahwa sebenarnya dari sisi teknologi tidak berbeda jauh dengan negara-negara Asia (Jepang, China, Taiwan, Korea).  Barang-barang elektronika yang beredar di Jerman sebagain besar dari negara-negara tersebut.  Teknologi perbankan, misalnya ATM dan internet banking, justru selangkah dibelakang Indonesia! ATM di jerman tidak mampu menyediakan layanan ganti PIN dan tidak bisa untuk transfer uang antar rekening, jadi kalo mau transfer harus tetap ke kasse, mengisi Formular tertentu, menyerahkannya kembali ada petugas dan sampainya ke rekening penerima selalu tiga hari kerja! Internet bankingnya pun masih harus melalui sentuhan tangan petugas Bank.  Misalnya malam ini saya melakukan transaksi di internet banking, besuk harinya transaksi itu baru di bukukan, lalu besuknya baru masuk rekening penerima.

Pertanyaanya: kenapa mereka lebih maju? Apa karena mereka lebih pandai? Tidak! Buktinya dari sisi teknologi meraka bahkan tertinggal. Atau meraka lebih kaya sumberdaya alam? Tidak juga! Batubara untuk listrik di Jerman hampir 100% impor, bahan makanan setiap tahun devisit tiga bulan (harus impor), bahan baku industri mobil harus impor. Kata kuncinya adalah tepat waktu dan taat azas (konsisten).  Orang Jerman bisasnya tidak segera tertarik untuk mencoba berpaling pada tugas baru, apalagi yang bukan komptensinya.  Hal ini snagat berbeda dengan orang Indonesia.  Bisa kita lihat berapa banyak orang yang berprofesi serabutan, misalnya dosen nyambi bisnis ini itu, guru nyambi jualan ini itu, PNS nyambi, pengusaha hanya ikut-ikutan. Kalau ada jenis usaha tertentu yang lagi banyak diminati atau pasarnya bagus, semua orang bermodal berbondong-bondong ikut kesana, padahal mungkin dia tidak punya kompetensi di bidang itu, apalagi profesional?

Ada pemeo yang sangat populer, “Kita sangat tenar bisa menyelasaikan tugas apa saja, tapi jangan ditanyakan bagaimana dengan tugas utamanya…?” Misalnya, kita bisa temukan diseluruh pojok negeri ini, begitu banyak (oknum) guru yang sukses dengan usaha sampingannya, atau seorang dosen yang sukses jadi konsultan proyek di mana-mana. Jangan tanyakan:  berapa modul yang telah ditulisnya? Apa dia sempat membuat program pengajaran yang baik dan benar? Sempatkah dia mengoreksi hasil ulangan para siswa/mahasiswanya?  Bagaimana nasib siswa/mahasiswa bimbingannya? Wallahu’alam bish showab..

 

Ini pekerjaan rumah kita semua,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: