Oleh: sumadiklaten | 14 April 2009

Pendidikan Kejuruan Berbasis Kompetensi; Kemampuan Profesional (2 dari 3 tulisan)

G. Bungk (1994) menyatakan bahwa hingga permulaan tahun 1960-an, diklat kejuruan lazimnya berbasis kemampuan untuk bekerja (ocuppational ability) dalam pengertian suatu rangkaian pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan tugas-tugas yang berhubungan dengan jabatan tertentu. Kemudian pada akhir dekade ini, di Jerman diperkenalkan konsep kualifikasi untuk bekerja (ocuppational qualifikation) yang dimaksudkan sebagai langkah pertama dalam adaptasi diklat kejuruan pada perubahan teknologi, ekonomi dan sosial. Cakupan kualifikasi untuk bekerja lebih luas, hingga meliputi fleksibilitas dan kemandirian.

Langkah pergeseran dari kemampuan untuk bekerja menjadi kualifikasi untuk bekerja bersifat kuantiatif, sedangkan langkah pergeseran dari kualifikasi untuk bekerja menjadi kompetensi profesional bersifat kualitatif. Peran pekerja yang kompetens berubah dari „diorganisasikan dari luar“ manjadi „mengorganisasikan diri sendiri“.

Jelaslah bahwa apa yang dimaksud sebagai „bentuk organisasi baru“ adalah memaksakan pemanfaatan keterampilan orang-orang dari sudut pandang teori organisasi dan pengelolaan bisnis.  Cara yang terbaik untuk „menguangkan“ potensi dalam organisasi adalah dengan cara mensosialisaikan dan menstimulasi kemampuan sosial dengan diklat kejuruan awal.

Fungsi baru pekerja yang berkualifikasi

Pekerja yang mempunyai kompetensi teknik akan mampu melakukan kegiatan dan tugas-tugas dalam bidang kerjanya secara bertanggungjawab dan kompeten serta mempunyai pengetahuan dan kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukannya.

Dengan kemampuan metodologis, seorang pekerja mampu untuk menanggulangi masalah yang dihadapinya dan penyimpangan yang terjadi.  Dengan memanfaatkan pengalaman yang telah diperoleh, seorang pekerja dapat secara mandiri mendapatkan solusi untuk masalah yang dihadapinya.

Komptensi sosial diperlukan seseorang pekerja untuk mampu bekerja secara komunikatif dan kooperatif dengan orang lain.  Pekerja dengan komptensi sosial yang tinggi akan menunjukkan perilaku yang berorientasi pada kelompok (team oriented) dan saling mengerti dalam kelompok (inter-personal understanding).

Pekerja dengan komptensi untuk berpartisipasi akan mampu memberikan kontribusi untuk menyusun lingkungan kerja di tempat kerja dan sekitarnya, mampu membuat perencanaan, mampu menerima tugas-tugas organisasi, mampu membuat keputusan dan bersedia untuk memikul tanggungjawab.

Organisasi belajar

Kebutuhan yang semakin bertambah akan diklat berbasis kompetensi bukan saja berlaku pada jenjang fasilitator, tetapi juga pada pasar kerja. Kompetensi bukan berarti menguasai keterampilan belaka, tetapi juga kemampuan menerapkan secara praktik di tempat kerja.

Kompetensi untuk bertindak dalam pekerjaan bisa didefinisikan sebagai kombinasi hubungan antara kompetensi teknik, metodologis, sosial dan individual. Ini adalah tipe pekerja yang dibutuhkan oleh perusahaan moderen. Kerja dalam produksi, quality control, maintenance dan process control membentuk suatu organisasi baru, organisasi yang sangat maju: organisasi belajar.

Kualifikasi Kunci

Adalah mustahil untuk bisa meramalkan, kualifikasi teknik yang bagaimana yang dibutuhkan pada masa yang datang? Oleh karena itu agar keterampilan yang diajarkan tidak cepat “kadaluwarsa” dalam waktu yang pendek, maka dimulai satu konsep baru, yaitu kualifikasi kunci (key qualifications).

Kualifikasi kunci adalah pengetahuan, kemampuan dan kompetensi yang membuat seseorang:

  • Mampu untuk melakukan pekerjaan dan fungsi dalam bidang yang luas sebagai opsi alternatif pada waktu yang sama, dan
  • Mampu untuk menghadapi dan mengatasi perubahan dalam kebutuhan akan akan kualifikasi yang biasanya tidak bisa diramalkan sebelumnya (Mertens, 1974).

Kualifikasi kunci merupakan basis dari pola diklat kejuruan yang lebih luas yang difokuskan pada tingkat kompetensi yang lebih tinggi daripada yang ditetapkan pada kualifikasi jangka menengah dan jangka panjang. Tugas utama kualifikasi kunci adalah untuk membentuk kerangka proses training yang bisa melengkapi, memperbaharui dan mengatisipasi secara dinamis kebutuhan akan kualifikasi baru.

Kulifikasi kunci dalam kerangka kompetensi tenkik

Adalah tidak benar anggapan yang menyatakan bahwa kualifikasi kunci- misalnya komunikasi, kerjasama, pengorganisasian dan team spirirt- bisa tercapai secara abstrak atau terpisah dari kompetensi teknik. Kemampuan sosial, metodologis dan individual harus menjadi bagian dari lingkungan teknik.

_________________________

Referensi:

Tippelt, Rudolf dan Amoros, Antonio (2003),  Pendidikan Kejuruan Berbasis Komptensi, Kumpulan Materi Seminar: Pembelajaran bagi Para Pembelajar, Terjemahan oleh Wenny Schmidt, Mannheim-Jerman: Internationalle Weiterbildung und Entwicklung (InWEnt) gGmbH.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: